Posted by : Alice
Sabtu, 07 November 2015
1. Diksi
Pilihan kata atau diksi adalah pemilihan kata – kata yang sesuai dengan apa yang hendak kita ungkapkan.Saat kita berbicara, kadang kita tidak sadar dengan kata – kata yang kita gunakan. Maka dari itu, tidak jarang orang yang kita ajak berbicara salah menangkap maksud pembicaraan kita.
Iklan adalah setiap bentuk komunikasi yang dimaksudkan untuk mempromosikan suatu produk dan memotivasi pembeli potensial (Agustrijanto, 2006:7). Di sinilah terjadi penyampaian pesan dari produsen yang diwakili biro iklan kepada calon konsumen. Hal ini menandakan terjadinya interaksi searah dalam bentuk komunikasi dari produsen ke calon konsumen.
Bahasa yang dipakai dalam iklan harus mengarahkan target penonton yang menyaksikan tayangan iklan tersebut untuk membeli, menggunakan, atau beralih pada produk jasa yang diiklankan. Gaya bahasa yang dipakai harus disesuaikan dengan siapa ia berbicara, bagaimana kebiasaan perilaku, di mana mereka berada.
Akan tetapi ada yang berpendapat bahwa bahasa dalam iklan terkadang dipandang menarik, jika bersifat main-main, atau menurut Hakim (2006) bersifat “lanturan”. Menurutnya “lanturan” berbeda dengan kata yang melantur atau ngawur, tidak nyambung dengan topik yang dibahas. Sementara lanturan adalah sengaja melantur atau melantur dengan tujuan. Namun, lanturan yang dibuat harus selalu dijaga relevansinya. Hal yang paling dekat dengan lanturan adalah plesetan. Orang muda saat ini tidak merasa gaul jika tidak banyak berplesetan dalam bercanda. Orang tertawa ketika mendengar plesetan karena relevansinya. Relevansi dalam konteks ini adalah kata asli yang diplesetkannya.
*++++================++++*
Lagsung saja, tujuan penelitian ini ialah untuk mendeskripsikan/menganalisi diksi yang dipakai oleh beberapa iklan yang memiliki sasaran konsumen berbeda-beda (anak-anak, remaja, ibu rumahtangga, bapak-bapak, orangtua maupun semua kalangan).
2. Contoh-contoh Iklan & Pengamatan Masalahnya
Penjelasan tentang sejarah A-Mild. Ketika awal peluncuran produk tersebut, A-Mild mengusung brandrokok yang rendah tar dan rendah nikotin. Dengan kata lain, rokok ini adalah rokok sehat, sebuah produk yang tentu saja mendukung kampanye anti nikotin. Dengan demikian, sebenarnya tak masalah orang-orang tetap mentradisikan merokok dengan tetap memperhatikan kesehatan karena A-Mild telah dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Namun, tata krama beriklan di Indonesia menerapkan aturan yang tegas untuk rokok. Antara lain iklan tidak boleh menayangkan atau menvisualkan bentuk rokok dan orang merokok. Dan lebih ekstrim lagi, iklan rokok selalu harus memuat tulisan "rokok dapat menggangu kesehatan, serangan jangtung, gangguan kemailan dan janin”.
Seperti kita ketahui bahwa iklan-iklan seri tersebut selalu berisi kritik sosial. Dalam konteks ini, iklan rokok A-Mild mengusung brand rokok yang cerdas dan kritis terhadap kondisi masyarakat. Iklan A-mild ini unik sekaligus menghibur. Seringkali kita menemukan pesan, misalnya “Terus terang, Terang Ga bisa Terus-terusan”, “Mau pintar, ko mahal”, “Susah ngeliat orang seneng, seneng ngeliat orang susah”, Sebagian orang akan mengernyitkan dahi pada waktu membaca atau mendengar iklan tersebut. Perlu pemikiran yang cukup cermat dan agak lama. Untuk sebagian orang lagi, iklan ini memberikan makna yang sangat dalam bahwa masyarakat harus peka terhadap hal-hal yang tidak lugas.
- Contoh ke-2, yaitu pada iklan Rinso.
Rinso Anti Noda "Membersihkan Paling Bersih"
Dari contoh gaya bahasa diatas terlihat jelas bahwa gaya bahasa yang digunakan adalah gaya bahasa hiperbola, yaitu gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu secara berlebih-lebihan. Slogan ini sangat kuat gaya bahasa hiperbolanya dengan menggunakan kata "paling". Jadi slogan ini dapat diartikan "tidak ada sabun cuci lain yang bisa membersihkan cucian paling bersih kecuali menggunakan Rinso Anti Noda". Penggunaan slogan ini tentunya akan memberikan kenyamanan dan kepuasan kepada calon konsumennya, karena produk ini memang sangat cocok digunakan untuk mencuci. Alasan penggunaan gaya bahasa hiperbola pada slogan produk ini adalah untuk menarik perhatian calon konsumen supaya mereka mau menggunakan atau setidaknya mencoba produk ini.
- Contoh ke-3, yaitu pada iklan Maybelline
"Pesona kilau baru untuk bibirmu..."
Untuk membuat pembaca tertarik akan produk yang ditawarkan tersebut pengiklan memanfaatkan bahasa sedemikian rupa sehingga muncul gaya bahasa hiperbola seperti pada kata-katanya, yaitu "pesona kilau berlian". Pada kenyataannya, seseorang yang mewarnai bibirnya dengan Maybelline hasilnya akan berbeda dengan kilau berlian. Ungkapan hiperbolis tersebut dimanfaatkan oleh pengiklan agar pembaca tertarik dengan produk pewarna bibir Maybelline. Janji yang diberikan kepada masyarakat adalah ketika memakai Maybelline maka bibir akan berkilau seperti berlian. Pada kenyataannya tidaklah demikian. Dengan begitu kata-kata tersebut termasuk ungkapan hiperbolis. Pada bagian berikutnya kata-kata yang berwarna merah merupakan ungkapan hiperbolis.
- Contoh ke-4, yaitu iklan Asuransi Manulife
mengambil tema dari kehidupan sehari-hari yang begitu melekat dalam benak kita. Hal menarik semacam inilah yang diangkat oleh Manulife dalam kampanye komunikasi mereka. Kehidupan sehari-hari yang membuat kita yang belum pernah mendengarnya akan merasa tertarik untuk mendengarnya. Membuat kita memiliki koneksi dan keterkaitan dengan sebuah upaya komunikasi.
Hal ini juga bertolak belakang dengan metode komunikasi yang biasa dipergunakan oleh perusahaan asuransi dalam menawarkan produk dan layanannya. Tema-tema yang menakuti seperti ketidakpastian, bagaimana bila seandainya anda meninggal, nanti apa yang akan terjadi pada orang-orang yang anda tinggalkan. Kita seperti menjadi ditakuti-takuti lalu kemudian secara terpaksa menggunakan produk asuransi. Manulife menggunakan pendekatan yang berbeda, dengan menekankan pada rasa bangga sebagai seorang suami dan ayah yang dapat diandalkan. Pendekatan ini terasa begitu humanis karena menyentuh aspek psikologis manusia yang positif.
3. Kesimpulan
Secara sederhana iklan tidak jauh dengan komunikasi. Periklanan merupakan bentuk presentasi dari promosi non pribadi tentang ide barang dan jasa yang dibayar oleh sponsor tertentu. Secara sederhana iklan didefinisikan sebagai pesan yang menawarkan suatu produk yang ditujukan kepada masyarakat lewat suatu media. Sementara kita paham dunia iklan selalu mengekspos kemudahan dan kemewahan yang memang mempunyai tujuan untuk menginformasikan suatu hasil produk kepada masyarakat. Ribuan iklan di Indonesia berlomba-lomba merebut audiens sebagai sasarannya. Iklan baik dan iklan jelek bermunculan dan berkembang cepat. Pengertian teori seni sebagai komunikasi dan ekspresi tidak jauh dari iklan sebagai media komunikasi antar produsen dan konsumen dengan daya ekspresi kreativitas di dalam berkarya untuk menghailkan sebuah karya iklan.
Dalam membuat iklan bukan hanya kreativitas yang dibutuhkan tetapi target audiens atau analisis pangsa pasar harus dipahami. Sebuah biro iklan atau kreator iklan harus jeli dalam mengamati perkembangan atau moment yang sedang ataupun yang mau terjadi. Biro iklan harus berpikir bagaimana membuat iklan yang bagus dengan kandungan eye catcher di dalamnya. Daya tarik atau eye catcher iklan dapat diterima oleh audiens dan tertancap di benak konsumen.
struktur kata yang biasa dalam iklan:
1. Menggugah : mencermati kebutuhan konsumen, memberikan solusi, dan memberikan perhatian.
2. Informatif : kata-katanya harus jelas, bersahabat, komunikatif. Tidak bertele-tele apalagi sampai mengabaikan durasi penayangan.
3. Persuasif : rangkaian kalimatnya membuat konsumen nyaman, senang, tentram, menghibur.
4. Bertenaga gerak: komposisi kata-katanya menghargai waktu selama masa penawaran/masa promosi berlangsung.
4. Bertenaga gerak: komposisi kata-katanya menghargai waktu selama masa penawaran/masa promosi berlangsung.
Untuk menyampaikan gagasan pikiran dalam suatu bahasa seorang penulis iklan harus mengetahui aturan-aturan bahasa tersebut, seperti tata bahasa, kaidah-kaidahnya, idiom-idiomnya, nuansa atau konotasi sebuah kata, dan sebagainya. Syarat ini adalah syarat yang mutlak.
Iklan memerlukan tampilan yang dikemas dengan bahasa membumi, kontekstual, dan ‘gaul’. Kondisi ini yang menyebabkan ada keprihatinan pada banyak kalangan. Ada yang berpendapat bahwa bahasa iklan tidak mesti sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, tetapi belum ada kriteria bagaimana sebaiknya bahasa iklan tersebut. Bila membuat iklan dengan memperhatikan kaidah bahasa meng-gunakan pola SPOK, menggunakan kalimat efektif, kata-kata yang diguna-kan akan sangat panjang dan kurang menarik. Bahasa dalam iklan terkadang dipandang menarik, jika bersifat main-main, atau bersifat “lanturan”. Hal yang paling dekat dengan lanturan adalah plesetan. Orang muda saat ini tidak merasa gaul jika tidak banyak berplesetan dalam bercanda. Orang tertawa ketika mendengar plesetan karena relevan-sinya. Relevansi dalam konteks ini adalah kata asli yang diplesetkannya. Kata-kata dalam iklan merupakan tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi; kata-kata tersebut merupa-kan jenis ilokusi langsung dan tak langsung, dan memiliki fungsi asertif.
Harus diakui bahwa perhatian calon pembeli adalah faktor yang sangat penting dalam iklan. Oleh karena itu, pemanfaatan gaya bahasa hiperbola dipakai untuk meyakinkan masyarakat akan janji-janji yang diberikan sebuah produk. Dalam hal inilah ungkapan hiperbolis dalam iklan merupakan faktor penting.
Dalam setiap iklan harus dimunculkan unsur pengingat baik yang berupa suara, gambar, atau bahasa verbal menjadi amat penting sehingga suatu saat hanya dengan mendengar, melihat, atau membaca pengingat itu, konsumen langsung terhubung dengan produk yang diiklankan. Kata yang dipilih harus dapat memberi ketepatan makna karena pada masyarakat tertentu sebuah kata sering mempunyai makna yang baik, dan pada masyarakat lain memberikan makna yang kurang baik. Penggunaan kata harus disesuaikan dengan norma kebahasaan suatu kalangan.
*++++==========================================++++*
Source:
